Senin, 31 Desember 2012

Boyband Westlept (Antara Ada dan Tiada)

            Merenda mimpi menjadi kenyataan adalah obsesi setiap insan yang bernyawa. Berbagai usaha pasti dilakukan untuk mencapai mimpi tersebut. Meski peluh mengering dan raga tak lagi menunjukan ketegarannya, hal itu justru menjadi rintangan yang  mewaranai perjalanan dalam meraih impian. Pada saat gue merasa kalau tampang dan suara ini dapat menjual di pasaran. Dari pasar bukit, rumput, hingga pasar minggu. Yah, gue memberanikan diri aja membentuk sebongkah Boyband. Eeh, sebongkah, emang es batu. Sekalian aja seekor, biar kayak binatang ternak. Hahaha

            Keberanian itu, semata-mata hanyalah untuk meraih impian. Impian menjadi boyband terkenal yang banyak digandrungi cewek-cewek. Walaupun  sebenarnya gue ilfil banget sama boyband gue sendiri. Gimana ga ilfil coba? Suara mending pas-pasan, masih ada yang bisa dijual. Lah ini, bukannya pas-pasan lagi tapi kurang, kuraaaaaang bangeeeeeet. Udah gitu di antara kita ga ada yang bisa nari. Yah, meskipun sebenarnya  gue suka geli sendiri sih kalau nonton boyband yang narinya kayak cacing kepanasan. Bahkan tariannya itu terkesan mirip semi cowok yang suka nongkrong di taman lawang. Idih !

            Westlept. Boyband ini kami namakan. Sumpah, tuh nama ga ngejual banget. bacanya aja susah. Apalagi diinget. Artinya  apa coba? Lo ga tau kan? Sama gue juga ga tau. Kalau emang mau nyama-nyamain Westlife dari sisi nama, ihh ga banget ! Gue sebagai penggemar fanatik Westlife sama sekali ga rela kalau Westlife harus dimirip-miripin sama boyband aneh ini. Mungkin kalau Westlife tau, nama Boyband mereka dimirip-miripin sama lima pemuda ga tau diri ini, mereka pasti langsung ngelaporin kita ke komnas HAM. Lho kok? Udah lo ga usah mikirin kenapa ke Komnas HAM. Yang jelas gue juga ga tau kalau melanggar hak cipta itu ngelaporinnya kemana, jadi gue asal aja nyebut-nyebut Komnas HAM. Hahaha

            Westlept digawangi oleh lima pemuda, yakni : Fandi Permana, Dimas Pandu Kusuma, Arif Satria, Miftah Awaludin, dan Tara Prayoga. Berdiri pada tanggal 10 April 2011 karena kecelakaan. Kok kecelakaan, Tar? Oke gue ceritain kronologinya. Once upon a time, kami berlima sedang berjalan di suatu tempat. Awalnya sih, pengen ke rumah Miftah untuk sekedar nyantai  sembari ngisi waktu liburan sekolah aja. Tapi,  kondisi saat itu ga memungkinkan banget, soalnya hujan deras. Sehingga membuat kami berlari layaknya lima pemuda maho yang lagi kejar-kejaran kayak film India. Perjalanan pun terhenti seiring dengan hujan deras yang turun. Hingga akhirnya, kami berusaha mencari tempat berteduh untuk berlindung dari hujan yang membasahi bumi.

            Di samping tempat peneduhan, terlihat pesta resepsi pernikahan yang cukup meriah. Tamu-tamu dengan seragam batiknya seolah mencerminkan kemegahan pesta resepsi tersebut. Sempat terpikir di benak gue. Kapan yaa gue bisa melangsungkan resepsi pernikahan kayak gini? Duduk di kursi pelaminan bak sepasang kekasih yang diselimuti kebahagiaan. Mpok Riri oh Mpok Riri, ingin rasanya, ku segera melamarmu. Melangsungkan akad dan membina rumah tangga yang sakinah, mawadah, wa rahmah bersamamu. Plaaaaaaaaak... Tangan Miftah melayang di kepala gue.

“Woy, Bengong aja !!! kesambet lo nanti!” Ujar Miftah.

            Kurang asem tuh bocah. Kagak bisa liat temennya seneng sedikit. Padahal kan gue lagi asyik mengkhayal. Malah dikacauin khayalan gue. Susah lagi kan dapetin tastenya. Emang tuh bocah kagak tau diuntung. Kalau tau bakal begini mending gue mengkhayal di atas genteng. Aman dan ga ada yang ganggu. Paling resikonya cuma dua. Kalau ga jatuh, ya kesamber geledek. Tapi mungkin itu lebih baik daripada diganggu sama temen yang enggak mahamin perasaan gue sama sekali.

            Lagian mana mungkin gue kesambet. Setan juga lagi pada neduh kali.  Orang hujannya dateng keroyokan. Udah gitu petir ga ada henti-hentinya bersuara. Setan juga mikir-mikir bro ! Mau keluar bagaimana? Apalagi sampai bikin orang kesambet. Ga mungkin banget kan? Dasar bocah keplek !

            Kalau seandainya tuh setan nongol. Sebelum dia bikin gue kesambet, gue ajak duluan tuh setan ngopi sembari makan pisang goreng bikinan Nyak. Sumpah, gue ga takut. Jangankan setan, bapak moyangnya setan aja pernah gue ajak main karambol. Masa setan ecek-ecek mau bikin gue kesambet. Mending tuh setan les dulu dah di bimbingan belajar persetanan. Supaya bisa bikin gue kesambet. Hahaha

            Berbicara masalah setan. Pernah suatu ketika gue dan Idham berjalan melintasi pemakaman. Di pemakaman itu, bukannya gue takut, malah geli. Pliss, lo jangan berpikir hal bodoh. Gelinya gue bukan karena setan ngelitikin gue. Dan itu ga mungkin terjadi. Soalnya selama gue melihat perkuliahan setan, ga ada tuh mata kuliah mereka yang ngajarin bagaimana cara ngelitikin manusia. Jadi lo geli kenapa, Tar? Oke gue kasih tau. Gue geli karena Idham meluk gue sepanjang jalan pemakaman karena ketakutan. Sumpah, kali ini gue merasa ada titik singgung yang sangat signifikan saat Idham meluk gue. Titik singgung itu benar-benar organ yang sakral banget yang dimiliki setiap manusia normal. Dan gue yakin pasti lo tau apa yang gue maksud.

            Setelah melewati pemakaman. Idham melepaskan pelukannya dari perut gue semabari bercerita. Katanya, tadi pas di pemakaman dia melihat pocong. Pocong itu loncat-loncat hingga membuatnya ketakutan. Hahahaha, kalau dia melihat pocong ketakutan, gue sih engga. Yaa secara, pocong tuh sebenarnya spesies setan yang paling lucu dan imut. Gimana engga? Tuh setan dibungkus kain kafan, di atas kepalanya ada yang menjulang kayak konde Nyak yang dipake setiap kondangan. Udah gitu loncat-loncat lagi. Yaelah, itu kan setan imut banget. Bahkan lebih imut dari boneka berbi yang suka dimainin bocah ingusan. Masa lo takut. Bener-bener ga rasional.

*****

            Singkat cerita, saat kami berteduh di dekat resepsi pernikahan tersebut. Datanglah seorang wanita ke tempat dimana kami berpijak. Entah hajat wanita itu apa. Yang jelas, awalnya gue mikir tuh cewek cuma pengen ikutan neduh. Tapi, kalau dia ikutan neduh lapaknya dimana. Gue aja udah sempit-sempitan sama empat pemuda ga tau diri ini.

“Mas...mas...” Panggil wanita itu lantang.
“Ada apa Mba?” Tanya gue.
“Maaf, saya mau minta tolong. Saya dari grup musik Besok Bubar yang harus manggung di acara resepsi pernikahan ini. Namun, kami sedang menghadapi kendala. Vokalis kami yang berjumlah lima orang tiba-tiba mendadak ga bisa datang. Kalian bisa menggantikan?” Pinta Wanita cantik itu dengan senyum merekah di wajahnya yang panik.

            Kami tengok-tengokan satu sama lain dengan wajah bingung. Antara terima atau tidak tawaran tersebut. Kalaupun kami terima, modal nekadlah yang akan membias di sanubari kami. Namun, jika kami menolaknya, maka kami termasuk orang yang tidak berperikemanusiaan. Orang udah minta tolong malah diabaikan.

            Kami pun segera berembuk. Perembukan itu menghasilkan keputusan, bahwa kami siap menggantikan lima vokalis tak bertanggungjawab itu untuk bernyanyi layaknya boyband dadakan yang ga sadar akan kemampuan diri.

            Sorak ramai suara penonton kian membias dalam resepsi megah yang didatangi beberapa tamu penting itu. Lurah, Camat, Walikota yang turut dalam acara tersebut, sungguh membuat gue dan empat makhluk ini gerogi setengah mampus.

“Kk-kita nn-nyanyi aa-apaan, Mba?” Tanya gue gugup.
“Nyanyi lagu Westlife yang My Love ya !” Tuturnya tegas.

            Wah, gue seneng banget pas Mba cantik itu bilang kalau kita bakal nyanyi lagu My Love. Selain menguasai, kami juga menyukai lagu itu.

“Fan, Lo Nyanyi di Intro awal yaa. Gue di Intro kedua. Dimas di bagian coda. Nah, si Arif dan Miftah biar jadi suara dua pas di reff.” Atur gue sok tau.
“Yaudah, atur ajalah.” Jawab Fandi.

            Perlahan gue tarik nafas dalam-dalam. Meski keringat mulai membasahi kening, hal itu tak membuat gue dan empat makhluk yang sekarang ada di samping gue ini mundur. Saat sang MC memanggil kami untuk naik ke atas panggung, jantung mulai berdetak cepat. Rasa gerogi pun kian menjadi. Tak dapat dipungkiri, sekarang hanyalah modal nekad yang terpatri. Terkadang menanggalkan esensi kemampuan diri di saat seperti ini memang diperlukan. Suara, tampang, dan penampilan pas-pasan yang sekarang terpampang di hadapan tamu undangan resepsi, kian menebar pesona keplek bin seglek. Entah mengapa, rasanya gue ingin semua ini cepat berakhir.

            Di atas panggung resepsi pernikanan inilah, pertama kali kami menunjukan kebolehan  di dunia tarik suara. Ga terlalu sulit kok. Soalnya sebelum kecelakaan ini terjadi, kami sudah sering main tarik-tarikan. Mulai dari tarik tambang, tarik gangsing, hingga main tarik ulur layangan. Semua itu tentu berbeda dengan tarik suara. Dan hanya manusia tolol bin seglek aja yang menganggapnya sama. hahahaha

So I say a little prayer and hope my dreams will take me there. Where the sky are blue to see once again My Love.....” Lagu kami lantunkan dengan indah.

            Abis lirik lagu ini, giliran gue yang nyanyi. Mampusssss ! gue lupa liriknya.

I try to read I go to work....” Nyanyi gue kepotong.

            Suara indah gue terhenti di lirik ini. Gue lupa apalagi terusannya. Dan saat itulah gue terdiam seribu bahasa. Kegagapan bernyanyi pun mulai membias di pita suara yang gue punya. Untungnya si Arif yang kadang-kadang keplek ini, pinternya lagi dateng. Sehingga dia yang meneruskan lirik lagu yang harusnya itu bagian gue.

            Kelupaan gue pada saat nyanyi di intro kedua, membuat gue  semakin gerogi di atas panggung. Namun, gerogi tersebut seolah sirna saat  salah seorang penonton ada yang melempar bunga mawar merah tepat di hadapan gue. Tanpa kompromi, gue pun langsung mengambil bunga tersebut. Entah, siapa itu yang melempar. Gue juga ga tau. Harapan gue sih cewek cantik yang dia juga penggemar rahasia gue.. hehehehe

            Setelah manggung, kami pun keluar dari acara resepsi pernikahan tersebut. Namun, saat kami keluar, ada suara lantang yang tak asing lagi didengar. Iya, wanita cantik yang juga bagian dari personil Besok Bubar itu memanggil kami kembali.

“Mas...!” Panggil sang wanita.
Kami menoleh ke belakang, “ada apa lagi, Mba.”  Jawab Dimas.
“Terimakasih ya mas. Kalau ga ada mas mungkin kami ga jadi manggung di acara resepsi pernikahan ini.” Ucapnya menghargai.
“Ah, memang kan sebagai makhluk sosial kita harus saling menolong, Mba.” Tukas Dimas.
“Benar tuh, Mba.” Jawab kami serentak.
“Oh ya, nih ada rezeki sedikit buat kalian. Jangan dinilai besarnya. Dan maaf kami cuma bisa ngasih segini.”
“Ahh, ga perlu repot-repot Mba. Kita ikhlas kok.” Pungkas Arif menolak.

            Bloon  banget tuh bocah. Udah tau kita lagi butuh duit buat ongkos ke rumah Miftah. Pake segala ditolak. Ikhlas juga pada tempatnya bro. Lo mau jalan kaki?! Gue sih ogah ! Plis deh, berpikir realistis dan rasional. Jangan keseglekan mulu yang dikedepankan.

“Jangan dengerin teman saya Mba. Kita terima pemberian Mba ini. Kalau masih mau pake kami calling aja ya, Mba.” Ujar gue sembari senyum simpul dan menarik uang yang dipegang Mba cantik itu.

            Setelah dialog itu selesai. Kami sesegera mungkin beranjak dari tempat resepsi tersebut. Dengan mengantongi bekal uang yang diberikan Mba cantik itu, kami pun kembali fokus ke tujuan semula. Yakni, ngumpul di rumah Miftah. Di perjalanan, kami sampat mendiskusikan masalah kejadian tadi.

“Sumpah, gue ga nyangka bakal kayak gini.” Tukas Arif
“Ya, sama. Semua juga ga bakal mengira ini semua terjadi. Namun, inilah takdir Ilahi yang pasti dan kudu kita syukuri.” Jawab gue wibawa.
“Bener tuh kata Tara.” Dimas menambahkan.
“Bagaimana kalau kita membentuk boyband. Pasti seru.” Pungkas Arif sambil mengajak.
“Boleh tuh.” Ucap gue mengiyakan.
“Tapi apa  ya nama boybandnya?” Tanya Miftah.
“Westlept !” Jawab Pandi nyeletuk.
“Wah  Keren..” Jawab Arif.

            Padahal keren dimananya yak? Gue sih ilfil dengernya. Selain gue ga suka karena meniru Westlife dari sisi nama, gue juga mikir. Tuh nama apa maksud coba? Kan biasanya kalau orang bikin band, pasti ada filosofinya dan ga asal namain. Misalnya : Dewa19 yang diambil dari anonim personilnya (Dhani, Erwin, Wawan, Ari, Andra) dan 19nya itu adalah rata-rata umur mereka saat membentuk band. Ada lagi ADA Band yang bermakna kalau mereka ingin selalu ada untuk seluruh penggemarnya di penjuru dunia. Liat kan, semuanya pasti ada makna tersirat dari sebuah nama. Ini apaan? Westlept ! Ga ada bergainingnya banget sih !

            Namun,  karena sistim demokrasi yang diterapkan. Mau ga mau, gue yang paling cerdas sendiri, sementara empat makhluk lainnya epleng. Yah, akhirnya disetujuilah Westlept sebagai  nama boyband serba kekurangan ini.

            Setelah disetujui, Westlept pun mulai menunjukan taringnya. Kami berkali-kali mengisi acara di panggung lokal. Dari acara tahun baruan, perpisahan sekolah, hingga resepsi pernikahan. Sejak itulah nama Weslept mulai familiar di Pamulang dan sekitarnya. Selain itu, kami juga pernah masuk dapur rekaman. Sejauh ini, kami sudah merekam empat lagu dalam bentuk mp3. Yah, walaupun lagunya itu hanya aransmen ulang dari lagu Westlife. Yakni lagu : My Love, What About Now, Swear it Again, dan I Lay My Love on You.

            Perjalanan grup tak semulus yang diharapkan. Pada awal 2012, kami sudah mulai fakum dan jarang latihan. Hal ini terjadi karena kesibukan masing-masing personil. Fandi sudah mulai sibuk dengan aktifitas kuliahnya. Gue, Dimas, dan Miftah yang saat itu masih duduk di kelas 12 pun mulai disibukan dengan persiapan menjelang Ujian Nasional. Sementara Arif sibuk dengan bandnya.

            Sulitnya mencari waktu untuk latihan, menyebabkan eksistensi Westlept kembali dipertanyakan. Apakah boyband ini masih ada atau tidak? Entah fakum atau bubar. Yang jelas untuk saat ini Westlept seperti hilang ditelan bumi. Dan mulai menanggalkan sejarah yang menjadi sebab kehadirannya.

Kamis, 13 Desember 2012

Boyband Miskin, si Botak, dan Polisi Seglek


             Ayam mengaung, burung berkokok, dan harimau berkicau. Sang surya pun mulai menampakan sinar keindahan. Sementara gue masih setia dengan dekapan selimut berbulu domba kesayangan yang udah ga dicuci selama berabad-abad. Sebenarnya gue udah minta Nyak memasukan selimut pusaka tersebut ke laundry, tapi ga pernah dipenuhi. Sorry bos, kalau lo menjudge gue sebagai anak yang malas karena ga mau mencuci sendiri, itu salah besar. Kenapa? Karena gue itu anak yang rajin, baik hati, dan tidak sombong. Mau bukti? Kemarin gue berangkat kuliah menggunakan angkutan umum. Bukan karena si jagur alias motor gue itu sakit, melainkan karena mpok Riri tetangga tercantik gue meminjam si jagur . Emang agak berat sih. Apalagi macetnya perjalanan dengan angkutan umum itu amit-amit banget. Mana ketemu banci prapatan. Mirip lagi sama banci yang pernah gue dan Miftah liat pas ngamen. Hedeh.. Tapi apa sih yang engga buat mpok Riri? Hehehe. Kalau boleh jujur, gue sebenarnya naksir berat sama mpok Riri. Gile bro, dia itu cuaaantik banget,  bodynye demplon pula. Luna Maya lewat deh. Terlebih mpok Riri baiknya minta ampun. Gue sering diajarin cara menulis sama dia. Yah, berhubung nulis itu hobi gue. Jadi, kebetulan banget mpok Riri yang katanya penulis ini bersedia ngajarin.
           
            Terserah lo deh. Mau nganggep gue modus kek, nyari kesempatan dalam kesempitan, atau apalah. Gue ga peduli. Yang penting gue udah berbuat baik untuk mpok Riri yang selalu ada di hati ini. Jadi, terbukti kan kalau gue itu baik dan tidak sombong? Silakan jawab dengan jujur !

            So, sebenarnya gue ga mau nyuci selimut itu, karena dilarang Nyak gue sendiri. Katanya sih, itu selimut sakti yang kalau seandainya dicuci bisa hilang kesaktiannya. Bingung kan lo? Gue juga bingung. Kenapa di era globalisasi ini masih  ada yang percaya begituan? Lagian juga gue ga yakin kalau itu selimut sakti. Sakti dimananya? Kalau sakti pasti mpok Riri udah jadi cewek gue sekarang. Lho kok? Oke gua kasih bocoran. Jadi, pas pertama kali Nyak ngasih tau itu adalah selimut sakti. Saban hari gue selalu berharap kesaktian selimut itu dapat menular. Semua keinginan  dapat terpenuhi dan mpok Riri bisa klepek-klepek di hadapan gue. Namun, sayang seribu sayang. Bukannya mpok Riri yang gue dapet, malah cuma bau bangsat yang selalu tercium setiap malam di hidung gue. Selimut itu justru menjadi bala saat ritual tidur sedang berlangsung. Hohoho

            Yowis, sekarang anggaplah selimut yang sekarang lagi mendekap tubuh gue  ini sebagai bala. Meskipun sesungguhnya gue udah terlanjur sayang sama nih selimut. Karena walaupun baunya seperti kentut monyet, selimut ini merupakan salah satu peninggalan mendiang kakek gue. Jadi, wajarlah kalau sangat berarti buat gue.

            Waktu pun terus bergulir, hingga siang hari gue belum juga bangun. Padahal  Nyak udah ngoceh-ngoceh bangunin gue. Emang somplak banget gue jadi anak. Hahaha bukannya bangun malah tambah beler. Kesabaran Nyak juga ada batasnya. Yah, walaupun kejadian ini hampir terus terulang tiap harinya, gue sebagai anak yang keplek, kaga pernah sadar. Hahaha dan lo tau? Nyak itu selalu menyiram gue dengan air bekas cucian beras yang udah diendepin selama setahun. Gila ga tuh? Yah, tapi gue sih terima-terima aja. Salah gue juga kok.


“Biyuuuuurrr.” Air cucian beras membasahi badan gue.
“Lo jadi anak ga tau diuntung ! Tidur ampe tengah hari, mau jadi apa lo? Gerutu Nyak campur marah.

            Nyak kayaknya udah sering gue kasih tau deh. Kalau gue pengen jadi penulis. Masih juga nanya. Nyak pura-pura ga tau atau  lupa sih? Gue tuh suka kesel. Habisnya kalau marah selalu ngeluarin pertanyaan “Mau jadi apa lo?”. Kan capek dengernya. Apa perlu gue tempelin di kamar spanduk ukuran 3x2 meter dengan tulisan “Gue Pengen Jadi Penulis !” ? Biar setiap Nyak marah, ga pake nanya kayak gitu lagi.

“Iya Nyak, Yoga bangun.”   Dengan muka setengah sepet.
“Cepetan bangun, rejeki lo dimakan ayam nanti !”

            Setau gue, ayam makanannya itu beras kalau engga pur. Kenapa Nyak sekarang pake ngada-ngada? Rejeki guelah dimakan ayam. Emang tuh ayam keabisan makanan apa?  Segala jatah gue diembat. Gue tau Nyak lagi marah, tapi ga usah  pake bohong bisa kali. Udah tau otak gue pinternya ga ketulungan. Ga bakal bisalah dibohongin.

            Kesetiaan gue dengan selimut sakti pada pagi itu pun terpaksa harus tergadaikan. Gue  mesti bangun, mandi, dan menjalankan aktivitas lainnya.

            Sebetulnya pada hari itu gue punya janji dengan Idham dan Ihsan. Yaitu  perjanjian untuk pergi ke tempat saudara gue yang sedang melaksanakan resepsi pernikahan. Jujur, sebenarnya gue males banget pergi sama dua makhluk itu. Kenapa ? Karena mereka tuh sering malu-maluin kalau diajak jalan. Pada jaman purbakala,  kami pernah berkunjung ke mall. Ehhh, dua makhluk itu ga sopan banget dan bertindak tanpa etika kayak orang yang kaga pernah makan bangku sekolahan. Sumpah, gua malu banget bawa-bawa mereka ke mall. Masa mereka ke mall ga lepas sendal. Padahal kan lantai mall udah bersih bercampur kinclong. Eh, malah dikotorin dengan alas kaki mereka. Gue yang justru terlihat pintar bin keren karena melepas alas kaki  di mall, malah diomel-omelin sama dua makhluk oon itu. Hadoh, emang dasar tuh bocah bego banget.

***

            Setelah mandi, gue menunggu mereka di rumah. Seperti biasa, mereka tuh selalu ngaret. Dan gue bener-bener bosen liatnya.

            Penantian pun berakhir, saat dua makhluk itu tersenyum lebar sambil berjalan layaknya maho permanen yang sedang dilanda asmara.

“Lama lo !” tukas gue kesal.
“Yaelah, jalanan macet, Tar.” Jawab Idham beralasan.

            Pliss deh, kalau beralasan yang rasional dikit kek biar ga ketauan begonya. Udah tau mereka jalan kaki, macet dimananya? Kalau jalan kaki aja macet, apalagi naik kendaraan. Apa si komo udah alih profesi? Yang tadinya bikin macet motor dan mobil, sekarang bikin macet pejalan kaki. Atau mungkin si Komo diPHK dari kerjaan sebelumnya? Terus dia sekarang diterima di perusahaan mana? Kok tuh perusahaan kurang kerjaan banget sih, pake segala bergerak di bidang kemacetan. Ya Allah, kenapa dua makhluk ini ga logis banget?

“Ya udah, gue keluarin si jagur dulu. Abis itu kita langsung capcus !” Ujar gue
“sipp.” Mereka saling menempelkan jempol satu sama lain.

            Kadang-kadang gue suka geli sendiri liat kelakuan mereka. Apa coba maksudnya bertempelan jempol? Kompak sih kompak. Tapi ga gitu juga kali. Kayak orang lagi nyatuin kekuatan aja lo ! Atau mau jadi Power Ranger? Tapi tindakan aneh mereka itu bukannya mirip Power Range¸ melainkan seperti dua pemuda epleng yang sedang keplek berjamaah. Hahahaha

            Jagur pun dikeluarkan. Dengan motor butut kesayangan gue itu, kami berpetualang mengarungi samudera. Ehhh, samudera. Hahaha emang motor gue pesawat Jet. Tuh motor dibawa ke sekolah aja suka batuk kayak orang keselek duren. Mana bisa mengarungi samudera. hahahaha nyalainnya aja ga pake kunci.

            Kalau seandainya jagur bisa ngomong. Mungkin dia bakal bilang “Ampun... Tolong jangan siksa saya.” Hahaha lo bayangin aja ! Gue 80 kg, Idham 75 kg, dan Ihsan 70 kg. Sedangkan, jagur ga mungkin dapat mengemban beban sebesar itu. Namun, apa boleh buat? Jagur harus dapat menerima kenyataan. Dia harus rela ditunggangi oleh tiga makhluk yang tidak berperikemotoran itu.

            Ihsan menyetir motor, gue di tengah, dan Idham di belakang. Sumpah, demi apa pun, ini adalah posisi yang paling ga enak bagi gue. Dijepit di antara dua makhluk yang sekarang mungkin lagi keenakan. Idham keenakan dari depan dan Ihsan keenakan dari belakang. Entah ini pelecehan seksual atau bukan, yang jelas rasanya gue pengen ngadu ke kak Seto. Supaya dua makhluk yang udah maksa gue duduk di tengah ini diberi pelajaran dan dihukum seberat-beratnya sesuai dengan aturan yang berlaku.

            Gue berharap ini terakhir kalinya gue duduk di tengah. Besok-besok gue harus duduk di depan atau di belakang. Enak aja, emang lo berdua doang yang pengen enak. Gue juga mau ngerasain cuy gimana nikmatnya. Uppss, ketauan dah belangnya. Hahaha sorry  gan, pernyataan di atas gue tarik kembali. Hihi

            Di perjalanan, kami menghadapi situasi yang sangat berat. Kemacetan yang menyempitkan ruang gerak dan polusi udara yang menyesakan saluran pernapasan, tak henti-hentinya menyertai perjalanan kami. Ditambah lagi, si Ihsan sang joki sepeda motor. Nyetirnya kayak kesetanan. Salip kanan, salip kiri kayak orang  kebelet kencing yang nyariin kamar mandi. Alhasil, jagur pun menabrak motor yang berada tepat di depannya. Dan lo tau? Motor yang kami tabrak, lampunya pecah dan pengemudi motor Ninja itu pun terjatuh. Begonya lagi, di antara kita ga ada yang berinisiatif  turun dari motor untuk menolong orang tersebut. Hanya terdiam di atas motor gembel layaknya personil boyband miskin yang lagi ngejar setoran. Hedeeeh :P

“Gimana nih?” Tanya gue panik.
“Lo tenang aja. Di situasi seperti ini kita harus bisa ngatur formasi dengan baik.” Tegas Idham.
“Formasi gimana Dham?” Tanya Ihsan.
“Kita turun dari motor bareng-bareng, nanti lo di sebelah kiri, gue kanan, dan Yoga di tengah.”
“Buat apaan?” Tanya gue penasaran.
“Ya, biar tuh orang takut sama kita. Terus dia ga minta ganti rugi atas kerusakan motornya.” Ujar Idham.

            Kami pun turun dari motor secara bersamaan. Tanpa berpikir panjang, kami langsung menerapkan formasi yang telah kami sepakati dalam konferensi jagur jilid 1. Formasinya kayak gini : Ihsan menghadap ke kiri dengan telunjuk ke atas, Idham hadap ke kanan sambil nungging dan bibir dimonyongin 5 cm, sedangkan gue, hadap ke depan sembari nopang dagu dengan kedua tangan sambil ngedip-ngedipin mata. Yang pasti, untuk saat ini batin gue cuma bisa ngajuin pertanyaan untuk seorang koreografer formasi : sebenarnya formasi kayak gini biar keliatan serem apa nunjukin kalau lagi epilepsi sih?

            Sumpah, tuh formasi kaga ada serem-seremnya. Lagian Idham bego banget sih ngerancang formasi. Emang ga ada yang lebih sereman dikit apa selain nungging, nunjuk ke atas, dan nopang dagu? Mana ada orang yang takut. Ini sih bukan formasi cowok sejati, tapi formasi semi cowok yang sekarang banyak dikerubutin cewek-cewek.

“Sekarang kita harus gimana lagi?” Tanya Ihsan.
“Tetep dengan rencana semula, San.” Jawab Idham.
“Woy !! Lo lagi ngapain sih?!! Kayak orang gila lo. Gue ga mau tau. Lo harus mengganti kerusakan motor gue ini ! Tegas si pengemudi motor yang palanya botak dan di atas bibirnya dihiasi dengan hutan rimba yang sangat lebat.

            Nah, kan, gue bilang juga apa? Bukan cuma gue doang yang ngerasa kalau formasi  ini kayak orang gila. Buktinya si botak juga bilang begitu. Hmm.. niatnya mau nakut-nakutin malah gue sendiri yang takut.

“Kita kaga mau ganti. Salah lo sendiri yang berhenti mendadak !” Ujar gue membentak.
“Eh, bocah SMA yang masih cacingan. Kalau lo ga mau ganti gue panggilin warga supaya lo digebukin. Mau lo?”

            Bungkam. Mulut gue terkatup tanpa kata saat ancaman dari si botak itu dilayangkan kepada kami. Kami hanya bisa pasrah dengan keadaan. Namun, kepalang. Nasi sudah menjadi bubur. Pernyataan perang sudah terpaksa kami keluarkan. Maka konsekuensi pun harus diterima. Meski berat terasa.

            Si botak berkumis itu segera berteriak memanggil warga di sekitar. Gue sebagai pria sejati pantang banget menyerah walaupun dalam keadaan terdesak. Entahlah, dengan dua makhluk yang sedang berada di samping gue ini. Pria sejati atau semi pria sejati. Yang jelas, pada saat itu karena kami satu tim, yah, harus kompak. Mereka memukul harus dibalas dengan pukulan, tendangan dibalas tendangan. Dan teriakan harus dibalas teriakan.

“ KABUUUURRR !!” Seru gue lantang.

            Setelah babak belur dihabisi masa, kami pun ditelantarkan begitu saja. Yah, walaupun pada akhirnya kami berdamai dengan si botak berkumis, hal tersebut sama sekali ga sebanding dengan babak belur yang kami rasakan. But no problem, yang penting sekarang kami masih bisa melanjutkan perjalanan ke tempat yang ingin kami tuju.

            Di atas jagur kami menembus keramangan jalan. Bergerak dengan kecepatan tinggi supaya cepat sampe ke tempat resepsi saudara gue. Namun, fokus kami terhadap perjalanan kala itu, seakan terpecah ketika di tengah jalan kami dibuntuti seorang polisi. Kami harus memacu motor dengan kecepatan penuh seiring sirine motor polisi yang meraung. Namun, apalah daya, ilmu fisika dan realita kembali bicara. Meski motor dipacu sekuat apapun, motor butut gue ga akan bisa lari dari kejaran motor polisi yang elegan dan hebat itu.

“Selamat malam, adik-adik.” Sapa polisi itu.
“Malam pak.” Serentak menjawab dengan senyum terpaksa.
“Bisa tunjukan surat-suratnya?”
“Surat? Kayaknya sekarang udah ga jaman surat-suratan deh pak. Maksud bapak email kali? Saya kasih tau ya pak. Sekarang itu ada yang lebih cepat daripada surat. Ada sms, email, dan chating. Atau kalau bapak pengen yang lebih cepet lagi pake aja facebook atau twitter. Tinggal buat catatan, tag ke orang-orang yang dituju, pasti lima menit kemudian dibaca.” Ujar Idham tanpa rasa bersalah disertai kepolosannya.

            Geplak ! Tangan gue mendarat di kepala tuh bocah. Ga habis pikir gue dengan penjelasan Idham. Di saat seperti ini masih aja menunjukan kebegoannya di hadapan polisi. Inget bro! Yang ada di depan kita sekarang itu polisi. Salah ngomong dikit bisa masuk penjara lo. Hmm, emang gini nih kalau orang begonya dimakan sendiri. Yang ada bukan nyelesaiin masalah, malah nambah masalah.

“Hmm, gini pak, sebenarnya kita ga pernah pacaran. Jadi, kami ga punya surat-surat yang bapak minta. Yah, ada sih, pak, surat izin ga masuk kelas. Tapi, surat-surat itu kan dibawa sama wali kelas.” Jelas gue rasional.

            Keramahan polisi itu seketika berubah menjadi garang. Matanya melotot tajam. Mulutnya terkatup dengan kumis yang bergerak seolah dia ingin memakan kami hidup-hidup.

“Maaf pak, kalau teman-teman saya rada ga beres. Sebenarnya, surat itu ada pak. Cuma belum sampai rumah. Jadi, ditunggu aja ya pak. Nanti kalau sudah sampai rumah bapak saya hubungi. Atau kalau engga, saya minta nope bapak deh. Supaya gampang hubunginnya.” Tukas Ihsan pede.
“Maksud kalian apa?! Yang saya tanyakan STNK dan SIM kalian !” Jelasnya garang
“Oh, surat itu. Ngobrol dong pak dari tadi. Saya kira surat apaan. Kalau masalah surat itu, silakan bapak tanyakan ke teman saya saja. Dia yang punya motornya.” Idham noleh ke gue
Ihsan nimpalin, “Iya pak kita cuma numpang aja kok.”
           
            Keplek !! kenapa semua dilimpahin ke gue ?! Mereka sungguh menanggalkan solidaritas yang telah dibangun selama ini. Giliran susah, gue yang kena. Sial!!! Ini namanya berat sama dijinjing, ringan sama dipikul.

“Mana STNK dan SIM-nya?” Polisi itu sekali lagi bertanya.
“Ada di Nyak saya pak.” Gue jawab terbata-bata.

            Mata polisi tersebut seketika terbelalak, wajahnya memerah, dan dahinya mengerut. Cuma satu pertanyaan gue, tuh polisi lagi marah atau kebelet boker? Hahaha

“Baik, kalian ditilang. Pelanggaran kalian fatal ! Tidak bisa menunjukan STNK, SIM, tidak memakai helm, dan naik motor bertiga.” Ujar sang polisi.
“Tapi pak, kalau motor ini dibawa berempat ga muat.” Tukas Gue.
“Hah !!” polisi itu melongo. “Satu pelanggaran lagi. Kalian melanggar rambu-rambu lalu-lintas. Lihat !” Polisi itu nunjuk ke rambu-rambu lalu-lintas. “Itu tanda setiap kendaraan dari laju kiri tidak boleh berbelok.” Jelas polisi itu kemudian.
“Tapi pak, kalau kami ditilang, berarti bapak juga harus ditilang. Kan bapak juga belok ke kanan dari lajur kiri.” Protes gue.
“Saya belok karena mengikuti kalian.” Jelas polisi beralasan.
“Wah wah.” Gue geleng-geleng kepala. “Seharusnya polisi tegas dong pak, udah tau kami melanggar peraturan lalu-lintas malah diikutin. Itu ga boleh, pak.” Jelas gue sok menasehati.
“Betul, betul, betul.” Dukung Idham.
Ho’ohi, kata Babeh saya juga gitu pak. Sesuatu yang salah ga boleh diikutin.” Imbuh Ihsan.

            Mata polisi itu mulai menajam laksana sebuah silet yang  siap mencukur habis kumis dan jenggot setelah mendengar penjelasan dari kami.

“Kalian kurang ajar ya ! kalian ga tau saya siapa?!” Tanya polisi setengah marah.

            Ehtah mengapa setelah polisi itu melontarkan pertanyaan aneh, perasaan iba mulai muncul di benak gue. Kenapa? Soalnya gue kasian sama tuh polisi. Masa nama sendiri aja lupa. Nanya lagi ke kita. Sumpah, gue ga habis pikir sama sekali.

“Pak..” Gue nepuk pundak polisi itu. “Bapak tuh polisi, seorang aparat negara, dan penegak hukum di Indonesia. Masa bapak lupa nama sendiri. Nama bapak itu Sukirman.” Sambung gue sembari baca name tag di dada sebelah kirinya.
“Kalau itu saya tau.” Tegasnya
“Kalau tau ngapain nanya, pak?” Tukas Idham bertanya.
“Iya pak, ngapain nanya?” Tambah Ihsan.
“Tilang kalian saya tambah.” Lanjut polisi itu.
“Ga bisa gitu dong pak ! Kalau bapak kayak gitu, kami bisa aja ngelaporin  ke atasan bapak. Kalau bapak juga udah melanggar lalu-lintas.” Protes gue diiringi ancaman.

            Polisi itu bungkam seribu bahasa. Sepertinya rasa takut mulai menyelimuti jiwa dan raganya. Tampak begitu jelas, polisi itu gugup dan berkeringat dingin saat mendengar ancaman dari gue.

“Memang kamu tau siapa atasan saya?” Tanya polisi tersebut.

            Gue senyum simpul sambil gelengin kepala. Perlahan menghelakan nafas panjang guna menghilangkan kecanggungan terhadap suasana saat itu. Motor gue emang butut, ga jaman, dan nabrak ayam aja penyok. Namun, polisi itu harus tau satu hal tentang jati diri gue. Dan memang sudah saatnya jati diri gue dipublish. Agar tuh polisi ga berani nilang dan macem-macem sama kita.

“Bapak ga tau siapa saya?” Tanya gue ngetes.
“Hahaha, saya ga peduli kamu siapa. Yang jelas kamu sudah melanggar banyak peraturan lalu-lintas. Ayo, kalian harus ikut ke kantor !” Tukasnya.
“Jadi, bapak benar-benar ga tau siapa saya?” Tanya gue sekali lagi.

            Polisi itu terdiam dan matanya turun naik melihat sekujur tubuh gue. Perlahan gue menunjukan sikap sewibawa mungkin di depan polisi yang kayaknya udah mulai kegi denger gertakan gue.

“Ss-benarnya ss-siapa kamu?” Tanya polisi itu nanar.

            Gue lirik dua temen yang sekarang berada di samping gue. Kembali gue hirup udara dalam-dalam sebelum gue yakin bakal memberitahu jati diri gue sesungguhnya. Seiring dengan debar jantung yang berdetak cepat, gue langsung bersimpuh seraya nelangkupin telapak tangan di depan polisi bermuka garang dan berkumis membentang itu.

“ Ampuuuunn pak !!! Saya cuma anak tukang nasi uduk. Buat bayaran sekolah aja suka nunggak. Tolong jangan tilang saya pak. Saya tobat.. bebasin kami pak !!!” Teriak gue histeris sambil ngerangkul kaki polisi tersebut.
“Saya juga mau tobat, paaaaak.” Ujar Idham seraya bersimpuh.
“Saya juga ngikut mereka paaaak !! Saya mau berobaattt ! “ Susul Ihsan


The End


\